Data Klasifikasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia

Beberapa waktu lalu (pertengahan Februari 2016) Kementrian Riset dan Teknologi mempublikasikan data Klasifikasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia. Berikut datanya yang sudah saya convert menjadi xlsx dan csv. Silahkan digunakan dan dieksplorasi.

https://drive.google.com/folderview?id=0B4RA-W0o3J75OERKb3BLLWpaVU0&usp=sharing

Luas Lahan Sawah di DIY

Luas Lahan Sawah DIY (Hektar)
Tahun Luas Lahan Naik/Turun Lahan Sawah Tiap Tahun Naik/Turun Lahan Sawah Tiap Tahun (%)
2005 57.118 0 0,00%
2006 56.218 -900 -1,58%
2007 55.540 -678 -1,21%
2008 55.332 -208 -0,37%
2009 55.325 -7 -0,01%
2010 55.523 198 0,36%
2011 55.291 -232 -0,42%
2012 55.023 -268 -0,48%
2013 55.336 313 0,57%

***

Luas Lahan
Luas Lahan
Picture2
Naik Turun Luas Lahan

***

Luas lahan pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta dari tahun 2005-2013 mengalami penurunan sebesar 3,12%. Tingkat penurunan terbesar terjadi antara tahun 2005 dan 2006 sebesar -1,58%.

Kenakalan Minke, Kenakalan Pram

Pernah kah kau berpikir bahwa Pram adalah sosok yang nakal? Membaca tetralogi burunya, aku melihat beberapa kali kenakalan Pram.

Pertama, Minke dan Annelies.

Jalan itu semakin panas dan semakin sunyi. Aku lompat selokan hanya untuk mengetahui ia akan ikut melompat atau tidak. Ia angkat gaun panjangnya tinggi-tinggi dan melompat. Aku tangkap tangannya, aku dekap dan kucium. Pada pipinya. Ia nampak terkejut, membeliak mengawasi aku.

“Kau!” tegurnya. Mukanya pucat.

Dan kucium dia sekali lagi. Kali ini terasa olehku kulitnya halus seperti beledu.

“Gadis tercantik yang pernah aku temui,” bisikku sejujur hatiku. “Aku suka padamu, Ann.”

***

Di pertemuan pertamanya dengan Annelies, Minke sudah berani terang-terangan melakukan hal tersebut. Sungguh nakal. Mengapa nakal? Karena tokoh Minke sejatinya merupakan sosok priyayi Jawa, yang dalam kultur kehidupan bangsanya hal tersebut merupakan sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Mungkinkah karena pendidikannya di HBS? Yang telah membuatnya menjadi seorang Eropa? Jika ya, mungkin Pram ingin menunjukan betapa dahsyatnya pengaruh pendidikan merubah perilaku sosial seseorang.

Sungguh berani. Mengapa berani? karena tokoh Minke merupakan sosok inlander yang derajatnya sangat rendah di mata kolonial. Bahkan sebelumnya saat di meja makan, Tuan Mellema, Ayah Annelies menghardik Minke dengan sebutan “Monyet.” Wah, bagi ku ini sungguh keberanian yang luar biasa. Apa kamu berani berlaku seperti itu juga? ihiy.

***

Kedua, Minke dan Mei.

Aku perhatikan dia dengan cermat, dan dia tahu benar sedang aku perhatikan. Makin lama ia nampak semakin cantik sekalipun dalam kekurusan dan kepucatannya. Atau memang aku yang mata keranjang, seperti kata seorang teman. Bukan sekedar philogynik. Salahkah aku kalau tertarik pada kecantikan yang memang menarik? Salahkah aku kalau memiliki perasaan keindahan dan punya kelenjar-kelenjar dalam tubuhku?

“Mengapa kau pandangi aku sampai begitu?” (Mei bertanya)

“Bukan salahku,” kataku

“Aku yang salah?”

“Ya. Kau yang salah. Kau terlalu menarik.”

“Sudah berapa wanita mendengar ucapanmu itu?”

“Dan sudah berapa kali kau tetak pria seperti ini? Dan berapa pria? Dengan sekejam itu pula?” tanyaku.

***

Dua kali… Minke! Kenakalanmu itu tak tertahankan. Harusnya kau menjadi panutan para jomblo masa kini!

Lalu, sebenarnya ini sebatas pada kenakalan Minke yang artifisial, atau juga sebuah sisi lain dari seorang Pram? Sisi yang nakal. Aku jadi penasaran bagaimana kisah hidupnya dengan istrinya. Apakah juga senakal pemikirannya.

Maka, sebenarnya, selayaknya, bisa kita sebut bahwa Pram mungkin adalah Casanova dari Blora.

Eksplorasi Emosi

Seperti biasa, bunyi alarm membangunkanku pagi ini. Tidak. Tidak. Tak hanya satu alarm yang ku pasang di ponsel pintar ku. Aku memasang tiga. Aku memang orang yang sangat sulit untuk bangun dari tidur ku. Tersadar dari mimpi-mimpi yang berjalan begitu riang dalam ketidaksadaranku. Bajingan memang! Sampai temanku, salah seorang teman di zaman SMA ku, menyebutku sebagai “Abu Naum.”

Ya, dahulu aku nyantri di sebuah pondok di daerah Bogor. Enam tahun. Sebutan Abu Naum itu didapatkannya setelah seorang ustad bercerita asal-usul nama Abu Hurairah. Julukan yang disematkan padanya karena Ia merupakan seorang penyayang kucing. Jadi ringkasnya, Abu artinya Bapak dan Hurairah artinya kucing: bapak para kucing. Sementara julukan yang disematkan padaku? Artinya adalah bapak tukang tidur. Kurangajar memang. Ia terlihat sangat bangga menyematkan julukan itu kepada diriku. Kendati berikutnya baru kuketahui bahwa susunan bahasa julukan itu salah.

Ini hari selasa. Hampir 6 bulan aku memaksakan diri untuk bangun pagi hari setiap selasa. Alasannya? Nanti sajalah kuceritakan. Sekarang, aku akan bersiap-siap bergegas ke perpustakaan.

Sambil meregangkan sendi-sendi otot, mataku mengendus setiap sudut kamarku. Mencari kotak merah jambu, tempat kenikmatan dan harum tembakau disertai Menjangan menyeruak. Menghisap lintingan tembakau dan menyeruput setetes demi setetes kopi pahit memang menjadi protokoler pertama ku sebangun dari tidur. Menu tembakauku pagi ini adalah tembakau Boyolali. Baru kubeli kemarin malam di toko tembakau Tugu langganan ku. Aku beli setengah ons. Harganya 4000 rupiah.

Beberapa saat melirik sana-sini, akhirnya kutemukan juga kotak merah jambuku. Ia ada di balik novel Bumi Manusia karya Pram yang tak kelar ku baca semalam, hingga aku ketiduran dan tanpa sadar, ternyata magnum opus “eyang” jatuh menimpa kotak merah jambuku. Kata senior-seniorku saat diriku masih di tahun awal kuliah, aku tak akan menjadi mahasiswa jika tak membaca Bumi Manusia. Beberapa hari setelahnya, langsung saja kubeli novel itu. Sayangnya bajakan. Bukan karena aku tak mampu beli yang asli. Tapi yang asli memang sudah ludes terjual. Maaafkan diriku ini eyang….

Kelar melinting batangan tembakau itu, tak lupa kuambil dan kuseduh kopi hitam di dalam plastik bening yang kutaruh di samping dispenser. Aku tak tahu berasal darimana biji kopi yang sekarang sudah jadi bubuk kelezatan itu. Aku membelinya di burjo di dekat kos ku.

Sesaat setelah kedua menu tersebut selesai disiapkan, kubuka pintu kosan ku, dan duduk di teras di depan kosku. Aku beruntung, kamarku ada di lantai dua. Sembari duduk diatas bale kayu panjang dan menghadap merapi, ku bakar, lalu ku hisap lintingan yang kubuat tadi, kemudian kuseruput kopi hitam panas yang kubuat setelahnya. Ah…. Inilah kenikmatan dunia. Kenikmatan yang sampai saat ini masih jadi perdebatan sehat atau tidaknya. Persetan!

Perlahan-lahan ku hisap lintingan tembakau Boyolali ku sampai habis. Setahap demi setahap kuseruput kopi hitam hingga tinggal menyisakan ampasnya. Lalu, tanpa sengaja kulihat jam pada ponsel pintar ditangan kanan ku yang sejak tadi kumainkan. Waktu menunjukan pukul 7.40. Sial, 20 menit lagi perpustakaan kampus ku akan mulai beroperasi. Aku harus bergegas. Bersiap untuk kembali melihat perempuan itu. Aktifitas mingguan ku di hari selasa pagi selama hampir 6 bulan terakhir. Ya, inilah alasanku bangun pagi.

Langsung saja kurapihkan sisa-sisa protokoler pertama ku setelah bangun tidur. lalu cepat-cepat mandi, ganti pakaian, dan… dan berangkat ke perpustakaan.

Tepat pukul 8 aku telah sampai di depan pintu perpustakaan kampusku. 5 sampai 7 orang, aku tak terlalu memerhatikan tepatnya, mengantri untuk masuk ke dalam. Belum ku lihat perempuan itu. Aku sangat hapal, dia akan datang tepat 15 menit setelah perpustakaan buka. Sembari menunggunya, seperti biasa, aku duduk di atas lantai di sisi seberang pintu masuk perpustakaan. Aku bersandar di kaca yang bentuknya agak melengkung. Di luar gedung perpustakaan, sembari duduk, kulihat candi kimpulan masih tetap bediri gagah di luar gedung ini. Masih tetap menyendiri seperti hari-hari kemarin. Ia hanya dikawal satu patung berkepala gajah. Anehnya, di kesendiriannya, tak kulihat raut kesedihan di sekujur tubuhnya. Sejenak ku berpikir, akankah manusia kan kuat menjadi sepertinya. Kuat dalam kesunyian. Ramai dalam kesendirian.

Perempuan itu telah tiba. kulihat dirinya berjalan anggun di lorong menuju pintu masuk perpustakaan. Rambut hitam pendeknya selalu diikat kebelakang. Tingginya kurang lebih 165 cm. Parasnya ayu. Matanya sayu. Kacamata dengan frame hitamnya membuat ia makin sempurna. Pagi itu dia memakai kaos hitam lengan pendek. Celana jeans biru tuanya hampir menyentuh senakers converse hitam-putih yang ia pakai.

Hatiku berbunga-bunga. Semangatku bergelora. Degup jantungku berdetak cepat. Tapi tetap saja, di dalam lubuk hati, aku menyimpan kekhawatiran, menyimpan kesedihan yang mendalam. Belum menemukan dasarnya. Belum menemukan jawabannya. Perempuan “ku” itu tetap murung seperti biasanya. Kurasakan kepedihan yang mendalam dalam kemurungannya. Jika aku bisa, akan ku peluk dirinya, seerat-eratnya. Membiarkan kepedihan itu berpindah pada diriku. Tuk melihat raut kebahagiaan di wajahnya.

Perempuan itu membuka tas punggungnya, merogoh dompetnya, dan mengambil kartu mahasiswanya. Cepat-cepat kuberanjak dari singgasana ku, menyiapkan kartu mahasiswaku, mengantri di belakangnya. Kulihat Ia menempelkan kartu mahasiswanya di barcode scanner, kemudian terdengar bunyi “tit” yang menandakan validitas identitasnya. Di layar komputer, kulihat foto, nama, dan nomor induknya. Fotonya di layar itu begitu mempesona. Dengan kemeja putih, dasi hitam, dan rambutnya yang disanggul. Saat itu ia rambutnya masih panjang. Kulihat namanya. Kulihat pula nomor induknya. Dari situ belakangan kuketahui dia adalah mahasiswa jurusan ilmu politik dan angkatan 2010, satu angkatan diatas ku.

Lekas menempelkan kartu identitasnya, ia berjalan ke arah tangga di samping kiri lift. Aku pun setelah melewati petugas penjaga, langsung juga bergegas menyusuri tangga. Aku tak tahu mengapa ia selalu menggunakan tangga. Tak menggunakan lift yang ada. Padahal lokasi favoritnya ada di lantai 3 gedung ini. Sampai di lokasi yang dirinya dan aku tuju. Aku masuk ke dalam ruangan luas yang di dalamnya terdapat ratusan rak buku putih yang berjejer rapih dari selatan ke utara. Masih sepi kulihat lantai 3 ini. Jelas saja, karena baru 9 orang paling tidak yang ada di perpustakaan ini, dan beberapa pustakawan serta petugas fotokopi.

Aku menuju ke arah utara. Ke lokasi sofa hitam yang dia duduki. Ia duduk menghadap ke arah mata angin yang berlawanan. Matanya kosong menatap langit pagi kaliurang. Kedua tangannya ia letakan di atas pahanya, saling menggenggam. Hatiku semakin tersayat melihat dirinya. Matanya. Kemudian, aku duduk di salah satu sofa yang berjarak beberapa baris di dekatnya. Aku menghadap ke arah ke utara, menghadap dirinya. Ia mengeluarkan sebuah buku merah dari dalam tasnya, dan langsung ia baca. Aku pun sama. Kukeluarkan novel eyang yang belum kuselesaikan ini. Novel yang semalam menindih kotak merah jambu kesayanganku.

Menurutmu aku sudah berkenalan dengannya? Belum. Atau mungkin tak akan pernah. Sebenarnya sudah pernah kucoba beberapa kali untuk berkenalan dengannya. Tapi tak pernah terjadi. Penyebabnya, aku tak kuat menahan rasa takutku. Setiap akan melaksanakan rencanaku itu, badan ku merinding, bulu kudukku berdiri, keringat dingin keluar perlahan dari tubuhku. Degup jantungku terus menerus bedegup cepat. Memalukan. Menyedihkan.

Sampai dini dulu ku ceritakan kisahku. Biarkan aku leluasa menikmati indahnya matahari pagi ku. Kau jangan ganggu!

Menjaring Sosialisme dalam Islam

SOSOK HOS. Tjokroaminoto sendiri merupakan pemimpin dari Sarikat Islam (SI), sebuah organisasi yang bergerak di ranah sosial-politik yang pada awalnya bernama Sarikat Dagang Islam (SDI) yang berfokus pada Sosial-Ekonomi. Seperti dipaparkan pada pengantar buku ini, pandangan bahwa ia adalah seorang nasionalis, sosialis, dan demokrat tidaklah salah. Namun jika dilihat lebih seksama maka sebenarnya Tjokro sendiri merupakan seorang sosok yang islamis. Karena pada dasarnya nilai-nilai islam lah yang ia terapkan dalam setiap pemikirannya. Konsep nasionalisme, sosialisme, dan demokrasi sendiri terdapat dalam ajaran Islam.

Dalam buku Islam dan Sosialisme ini, Tjokro secara bertahap memberikan kita pemahaman terkait hubungan erat islam dan sosialisme. Di mulai dari pembahasan definisi sosialisme dan agama islam itu sendiri, historisitas kepemimpinan Islam sebagai kepemimpinan sosialis, sampai tanggapannya terhadap pendapat yang menyatakan Islam adalah imperialis. Buku Islam dan Sosialisme ini dianggap sebagai karya termasyhurnya.

Sosialisme, kata yang awalnya diambil dari bahasa latin “socius” ini secara secara etimologis juga memiliki kesesuaian makna dengan beberapa bahasa: Dalam bahasa Belanda artinya maker, dalam bahasa melayu artinya teman, dalam bahasa jawa artinya kita, dan dalam bahasa arab artinya sahabat atau asyrat. Jadi sosialisme adalah paham yang mengutamakan persahabatan, menghendaki cara hidup “satu untuk semua, semua untuk satu”, yaitu cara hidup bahwa setiap manusia satu sama lain memiliki keterikatan dan memiliki tanggung jawab satu dengan yang lainnya.

Menurut Tjokro, Sosialisme tidaklah sama dengan Komunisme. Komunisme merupakan paham yang segala aturan-aturannya menyerang sifat kepemilikan individual dan menggantinya dengan kepemilikan bersama. Sosialisme merupakan inti dari Komunisme dan pada perkara ini Komunisme hanya merepresentasikan Sosialisme di dalam hal-hal materialistis saja untuk mewujudkan tatanan kesejahteraan masyarakat.

KAANAN naasu ummatan waahidatan, Sesungguhnya seluruh umat islam itu bersaudara. Salah satu ayat dalam Al-qur’an ini merupakan dasar bagi segala nilai Sosialisme dalam Islam. Rasulullah SAW pun bersabda “Allah hanyalah satu dan asal seluruh manusia hanyalah satu, agama mereka pun hanyalah satu”. Firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW tersebut tentunya sangat jelas bahwa semangat islam adalah semangat persatuan. Semangat yang menyatakan bahwa setiap umat manusia yang ada di dunia ini adalah satu, mempunyai satu asal. Ketika satu orang sakit maka seluruhnya sakit. ketika satu senang maka seluruhnya senang. Layaknya tubuh manusia itu sendiri.

Sosialisme dalam islam adalah sosialisme yang tidak hanya bergantung pada ayat dan sabda belaka. Di dalam islam nilai-nilai sosialisme juga dimasukan ke dalam ibadah-ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, wajib maupun sunnah. Setiap minggu kita diwajibkan untuk berkumpul di dalam satu waktu tanpa membedakan suku, jabatan, maupun bangsa. Semua melebur menjadi satu, yaitu di waktu shalat jumat. Setiap tahun dua kali kita disunnahkan berkumpul untuk merayakan idul fitri maupun idul adha sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT tanpa adanya perbedaan pula. Setiap tahun sekali kita diwajibkan untuk menyisihkan harta yang kita miliki dan membaginya kepada orang yang membutuhkan ketika membayar zakat demi tercapainya rasa bahagia di antara manusia.

Tiga hal penting yang menjadi bagian sosialisme dalam paparan Tjokro pada buku ini adalah kemerdekaan, persamaan, dan persaudaran. ketiga hal tersebut juga terakomodasi dalam nilai-nilai agama islam. Yang pertama adalah kemerdekaan, setiap muslim adalah seorang yang merdeka. Karena setiap muslim haruslah yakin bahwa satu-satunya penguasa di dunia ini hanyalah Allah SWT. Sehingga tidak ada alasan baginya untuk takut kepada sesama makhluk. Kemudian persamaan, setiap muslim memiliki derajat yang sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanyalah amal dan perbuatannya, sehingga Islam tidak mengenal dengan yang namanya perbedaan kelas atau pun kasta. Yang ketiga yaitu persaudaraan, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa setiap umat Manusia di muka bumi merupakan saudara. Tidak ada batasan agama yang memisahkan persaudaraan tersebut, sehingga tidak ada alasan untuk saling menyakiti.

KEPEMIMPINAN dengan nilai-nilai sosialisme telah dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin besar muslim. Yang pertama adalah Rasulullah sendiri. Ia adalah pemimpin besar yang membawa nilai-nilai sosialisme islam. Rasulullah adalah seorang pemimpin yang membenci tanda kehormatan dan segala barang yang menunjukan kebesaran dan di setiap harinya Ia pun melakukan pekerjaan-pekerjaan yang orang lain pun kerjakan. Pekerjaan rumah tangga misalnya.
Rasulullah juga seorang yang sangat demokratis dalam kehidupannya meskipun Ia adalah seorang utusan Allah SWT. Di waktu terakhir hidupnya ia tidak memilih salah seorang keluarganya untuk menggantikan kepemimpinannya. Ia lebih memilih Abu Bakar untuk menggantikannya karena kepiawaiannya.

Contoh kepemimpinan sosialistis lainnya ada pada Khulafaurasyidin. Sifat sosialistis Abu Bakar tercermin dalam sebuah surat yang ia kirim kepada salah seorang jenderalnya Yazid bin Sufyan. Dalam surat tersebut ia memerintahkan Yazid untuk tidak menindas dan menyusahkan rakyatnya dengan selalu melakukan musyawarah dalam setiap keputusan yang akan diambilnya agar keputusan tersebut menguntungkan bagi semua pihak.

Sifat sosialistis Umar bin Khattab tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinannya. Ia adalah pemimpin yang beristanakan lumpur sehingga Hercules, seorang raja Persia dibuat kebingungan dengan hal tersebut. Hercules pada waktu itu mengirim seorang utusan untuk bertemu Umar bin Khattab. Namun ketika utusan tersebut sampai di tanah arab, betapa kagetnya ia ketika
mendapati seorang pemimpin sedang berkebun, pekerjaan yang orang-orang biasa pun lakukan. Dan ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada Hercules sesampainya ia kembali ke Persia.

Usman bin Affan seorang taipan yang pada masa tuanya rela membeli sumber-sumber air untuk kepentingan orang banyak. Meskipun pada masa kepemimpinannya Usman dikepung banyak musuh, dan para jenderalnya meminta izin untuk memerangi musuh tersebut, namun Usman melarangnya karena Usman adalah seorang yang amat menghindari pertumpahan darah. Ia tidak ingin menjadi penyebab terjadinya pertumpahan darah diantara sesama muslim.

BANGSA barat beranggapan bahwa kepemimpinan muslim adalah suatu bentuk imperialisme, khususnya pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Kita tahu bahwa imperialisme adalah sejahat-jahatnya suatu paham. Namun yang terjadi pada kepemimpinan Umar adalah perkara yang amat berbeda. Sekedar menganggap bahwa Umar adalah seorang pemimpin imperialisme, maka imperialisme yang Umar bawa adalah imperialisme dengan asas islam. Berbeda dengan imperialisme barat yang memiliki fondasi Keegoisan dan Ketamakan. Imperialisme barat adalah imperialisme yang mengambil seluruh kekayaan bangsa yang didudukinya, sehingga bangsa tersebut menjadi bangsa yang tertindas oleh pendudukan tersebut.

Tjokro menyatakan bahwa Imperialisme muslim adalah Imperialisme yang menjadikan seluruh bangsa yang didudukinya menjadi bangsa yang memiliki harkat dan kesejahteraan. Berbeda dengan barat. Salah satu contohnya yang terjadi di Hindustan dan Spanyol. Penaklukan kedua bangsa tersebut menjadikan keduanya bangsa yang sejahtera dan bermartabat. Sebelum masa kepemimpinan islam di Hindustan, Bangsa Hindustan adalah bangsa yang terpecah belah oleh perbedaan kelas di dalamnya. Saat itu kelas dalam tatanan masyarakat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Maka setelah kedatangan umat islam perbedaan tersebut dileburkan dengan nilai-nilai persatuan yang ada dalam islam. Sehingga Hindustan pada saat itu menjadi bangsa yang besar. Begitupun dengan Spanyol menjelma menjadi pusat peradaban dan pusat ilmu pengetahuan setelah datangnya islam.

Beberapa Hal tersebut yang membuat Imperialisme yang dibawa oleh Islam dan barat Berbeda. Imperialisme islam adalah Imperialisme yang didasari oleh nilai Sosialisme, berbeda dengan barat yang paham Imperialismenya telah ditunggangi Kapitalisme yang sifatnya menindas dan bahkan keluar dari nilai Humanisme.

SAAT ini dunia tengah dikekang oleh hegemoni barat yang berdasar pada Kapitalisme, cita-cita Kosialisme sejati tidak akan terwujud dengan adanya hegemoni barat tersebut. Sosialisme sejati haruslah bersih dari segala Individualisme yang bersifat egoistis dan materialistis. “Untuk mencapai kesejahteraan bersama manusia, khususnya umat muslim harus bisa kembali
mendefinisikan visi hidupnya di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah SWT,” begitu ungkap Tjokto. Hal ini yang menjadi dasar terciptanya kesejahteraan bersama. Sosialisme sejati.

DI bagian akhir bukunya, Tjokto memaparkan bagaimana langkah mencapai Sosialisme sejati. Katanya, suatu kesalahan jika mencoba memulai Sosialisme dari “tataran puncak.” Sosialisme haruslah dibangun dari bawah. Yang pertama harus dibangun adalah sifat dan akhlak setiap orang sehingga masyarakat yang ada sampai pada tatanan masyarkat yang bersifat sosialistis. Tatanan masyarakat tanpa perbedaan kelas dan memiliki derajat sosial yang sama. Sosialisme Islam tidaklah melarang setiap umatnya untuk maju. Namun Islam melarang setiap umatnya untuk menjadi kaya dengan merugikan dan mengorbankan orang lain.

Memang menjadi hal yang sangat sulit untuk mewujudkan tatanan masyarakat seperti itu. Sosialisme sejati yang ada pada masa Khulafaurasyidin pun barulah berjalan selama kurang lebih 30 tahun. Selebihnya tidaklah benar-benar memiliki asas Sosialisme sejati, karena para pemimpin-pemimpin muslim setelahnya masih belum bisa mengalahkan sifat egoistis dan materialisnya.

BANYAK perdebatan terhadap buku ini, seperti yang ditulis Zainul Munasichin dalam bukunya, Berebut Kiri, yang mengkritik habis-habisan buku Islam dan Sosialisme. Dalam buku ini Zainul memberikan satu bab terkait sejarah Islam dan wacana kiri. Wacana Komunisme-Islam yang dibawa oleh Haji Misbach. Juga Sosialisme-Islam yang dibawa oleh Tjokro.

Zainul mengatakan bahwa buku Islam dan Sosialisme merupakan buku yang malah terkesan merupakan ambisi Tjokro untuk meyakinkan bahwa Marxisme adalah ateis. Dalam menulis buku ini, Tjokro terindikasi didampingi dengan referensi yang ketat.

Ini terbukti dari salah satu kalimatnya, “kalau saya tidak keliru,” dalam memaparkan salah satu kalimat yang di tulis oleh Karl Marx, yaitu “Agama adalah candunya rakyat.” Tjokro keliru menyebutkan nama buku yang mengutip pernyataan tersebut.

Pertentangan ini pula yang menjadi salah satu penyebab perpecahan dalam tubuh SI. menjadi SI putih dan merah. Tjokro tetap berpandangan bahwa Komunisme tak sesuai dengan Islam. Pandangan ini pun juga dikritik oleh Haji Misbach dengan menyebut Tjokro sebagai muslim yang hanya “di bibir saja” dalam tulisannya di Medan Moeslimin pada Februari 1925.

Terlepas dari kritik yang yang ada, buku babonnya Tjokro ini sangat lah layak untuk dibaca. Malah, karena pertentangan-pertentangan yang terjadi bukankah menjadi menarik?

Agama Sebagai Wacana Eksotik Komoditas Politik

Indonesia, negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia yang katanya sangat toleran akan kebebasan beragama ini ternyata tidak seindah yang semestinya. Kita tentunya akrab dengan mencuatnya wacana-wacana kekerasan bernuansa agama yang terjadi beberapa tahun belakang ini. Penyerangan jemaah Ahmadiyah Cikeusik, isu pelarangan jilbab dan sulitnya pendirian rumah ibadah di Bali, konflik komunal Islam-Kristen di Maluku dan masih banyak lagi. Logika hukum alam –yang kuat adalah yang menang– masih sulit untuk dipadamkan. Penindasan kaum mayoritas kepada kaum minoritas –konsep ini juga termasuk kekuasaan politik– masih kerap terjadi. Terlebih negara sebagai pihak yang harusnya menjamin keamanan warga negaranya belum sepenuhnya berarti.

AGAMA sebagai gabungan dari kata “A” yang berarti penegasian dan “Gama” yang berarti kacau harusnya menjadi hal yang fundamental bagi setiap individu –yang katanya– beragama untuk menghindari segala tindakan yang berindikasi ke arah kekacauan. Namun realitas yang terjadi pada konteks sosial-budaya yang ada di Indonesia bahkan dunia adalah, hampir setiap orang yang ada, beragama bukan karena kesadaran spiritual dalam jiwa masing-masing individu. Namun lebih karena fakta genealogis sehingga kesadarannya akan esensialitas agama belumlah terjamin. Setiap orang yang memiliki agama belum tentu beragama.

Selain itu jika di masukan ke dalam konteks Islam, Hassan Hanafi bependapat bahwa terma “Agama” yang di pakai Islam tidak sepenuhnya sesuai. Hampir semua kamus bahasa mendefinisikan kata agama hanyalah berhubungan dengan domain supernatural, magis, ritual, kepercayaan, dogma, dan lainnya. Padahal Islam secara terminologi lebih dari hal yang sifatnya ritualistik seperti diatas. Islam adalah etika, wawasan kemanusiaan, ilmu sosial dan ideologi. Sehingga menurutnya terma tersebut kurang sesuai, namun jika kita mengkaji pemahaman ini lebih lanjut pendapat Hassan Hanafi yang mengatakan bahwa Islam lebih sesuai dengan terma Ideologi, maka hal ini pun menjadi suatu hal yang kontradiktif pula karena ideologi lebih cenderung kearah politik yang sarat akan kekuasaan. Sehingga akan mengkerdilkan makna islam itu sendiri.

Namun yang perlu digaris bawahi dari pendapat itu bahwa agama, khususnya Islam adalah gambaran manusia dalam bermasyarakat, komitmen moral, dan perbuatan sosial. Sehingga dengan alasan apapun kekerasan yang berasaskan agama tidak mungkin dibenarkan.

Jika kita mengacu pada kenyataan yang paling mendasar terjadinya kekerasan yang ada di Indonesia, perbedaan adalah salah satu penyebab terjadinya kekerasan. Namun jika mengacu kepada konsep Al-qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal dan memahami bukan untuk saling mengintimidasi. Maka jelas adanya bahwa perbedaan merupakan suatu keniscayaan bagi umat manusia dan bukan menjadi alasan untuk timbulnya kekerasan. Dan untuk menciptakan perdamaian tidak memerlukan penyatuan agama. Seperti yang terjadi di Spanyol beberapa abad silam. Pada 500 tahun pemerintahan Islam di Spanyol, Islam hidup berdampingan secara rukun bersama Kristen dan Yahudi serta bersama-sama menciptakan peradaban yang gemilang. Maka ketika ada wacana tentang formalisasi agama dalam suatu pemerintahan, ini jelas bukan merupakan perjuangan yang murni, namun hanya tendensi politik semata.

Ada yang menarik jika kita melihat laporan tahunan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dan Intoleransi yang disusun oleh Wahid Institute. Tren kekerasan bernuansa agama pada tahun 2014 mengalami tingkat penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.


 

 

Jumlah tindak kekerasan tahun 2009 – 2014  (Wahid Institute)
        Jumlah tindak kekerasan tahun 2009 – 2014 (Wahid Institute)

Ketika melihatnya secara kasat mata, ini merupakan suatu prestasi bagi Indonesia. Namun ketika mengkajinya lebih jauh, kita bisa melihat bahwa ini dapat menjadi indikasi bahwa tindak kekerasan bernuansa agama hanyalah suatu komoditas politik semata. Mengapa? Karena kita semua tahu bahwa tahun 2009 dan 2014 merupakan tahun politik di Indonesia. Di dalam laporan tersebut terlihat bahwa naik turunnya kekerasan bernuansa agama di Indonesia sejalan dengan atmosfer politik di Indonesia. Hal lainnya yang membuktikan pula bahwa pola intoleransi beragama dan berkeyakinan di Indonesia sesuai dengan laporan tersebut adalah mencuatnya kasus-kasus intoleransi di tahun 2015, seperti di Tolikara, Singkil, dan pelarangan hari Asyura bagi penganut Syiah di Bogor.

Maka hal ini nampaknya perlu menjadi perhatian khusus bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk berhati-hati ke seluruh retorika politik bernuansa agama. Karena memang banyak kekerasan berkedok agama yang cenderung mengarahkan kita ke ranah politik. Sebut saja kekerasan yang dilakukan oleh FPI. Polisi sebagai aparat keamanan yang seharusnya menjaga keamanan seluruh warga Negara Indonesia malah bertindak sebaliknya. Apakah ini wajar, ketika suatu institusi keamanan negara takut dengan ormas sekelas FPI. Jelas ada indikasi negatif dibaliknya.

Dalam Laporan tersebut (laporan tahunan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dan Intoleransi yang disusun oleh Wahid Institute) pun disebutkan bahwa polisi berada pada tingkat pertama pelaku intoleransi, dan yang paling sering terjadi adalah tindak pembiaran terhadap kekerasan.

Ada beberapa rumusan penyelesaian masalah yang terjadi pada persoalan ini. Mulai dari pendidikan kepada masyarakat terkait esensialitas agama sampai yang menurut saya paling “radikal” adalah sekularisasi. Namun yang paling penting disini adalah peran negara. Negara harus serius menangani permasalahan ini. Tidak bisa dipungkiri, negaralah yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Jangan malah bermain dibelakangnya.


Artikel ini sebelumnya diterbitkan di portal LPM Himmah UII | Gambar Fitur diambil dari Pinterest

Civic Islam, Upaya Membangun Keadaban

Pada tanggal 7 November 2015 lalu, LPM HIMMAH UII menghadirkan AE Priyono, Direktur Eksekutif LP3ES yang juga seorang peneliti dan alumnus LPM Muhibbah UII. Dalam diskusi yang pada dasarnya tidak direncanakan dengan matang—karena AE Priyono datang ke Yogyakarta untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh HMI-MPO UII—tersebut, AE Priyono dan kawan-kawan mahasiswa sepakat untuk berdiskusi soal Civic Islam, sebuah agenda gerakan demokrasi partisipatoris yang sedang digawangi oleh AE Priyono dan beberapa peneliti lainnya. Tulisan di bawah ini disusun dari diskusi dan beberapa artikel Civic Islam yang terdapat dalam civicislam.blogspot.com. Selamat membaca.


 

DALAM salah satu tesisnya, Indonesia’s democratic stagnation: anti-reformist elites and resilient civil society, yang membahas soal stagnasi serta regresi demokratisasi di Indonesia, Marcus Mietzner memperlihatkan bahwa di Indonesia saat ini sedang terjadi sebuah fenomena yang dinamakan konservatisasi politik elit. Hal ini mulai terlihat saat partai-partai, birokrat, dan politisi mulai mengganggu Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk kepentingan politik elektoralnya, kepentingan politik yang hanya terkonsentrasi pada kompetisi elit. Kita dapat melihat hal tersebut pada banyaknya skandal di tahun 2005, 2006, dan 2007, di mana KPU dikeroyok untuk dijadikan instrumen partai. KPU sebagai pengendali Pemilihan Umum (Pemilu) diperebutkan agar dapat dikendalikan sebagai langkah memenangkan pertarungan. Demokrasi pada akhirnya ditafsirkan sepenuhnya sebagai politik elektoral. Ini jelas tidak sesuai dengan kerangka demokrasi yang substansial, yang sebetulnya lebih menginginkan partisipasi popular ketimbang kompetisi elitis.

Mietzner juga memperlihatkan gejala lain yang masih terjadi sampai saat ini; betapa elit politik tersebut melakukan serangan balik terhadap liberalisasi politik dengan cara merusak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Agenda perusakan KPK ini terjadi karena politik elektoral berbasis partai hanya bisa survive ketika ada anggaran yang diambil dari negara, salah satu yang terbesar adalah melalui korupsi, dengan cara menanamkan orang-orang dari elit partai tersebut ke dalam lembaga-lembaga negara. Kehadiran KPK merupakan salah satu gangguan bagi mereka dan oleh karena itu, KPK harus diperlemah. Lalu, untuk memecahkan perhatian publik dalam mengontrol para bandit politik tersebut, mereka membuat provokasi-provokasi konflik horizontal.

Sebenarnya yang terjadi di Indonesia ini bukan hanya stagnasi dan regresi demokratisasi, namun juga reversi, yang terjadi sejak tahun 2012 (baca di sini). Fenomena reversi ini bisa kita perhatikan pada beberapa pasal undang-undang (UU) Organisasi Masyarakat (Ormas) maupun UU Keamanan Nasional. Terlihat sekali upaya rezim—yang pada saat itu dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono—untuk mengembalikan peranan militer, yang sekarang pun sebetulnya makin terbukti. Baik di posisi-posisi sipil maupun reorganisasi di internal kelembagaan mereka sendiri, betul-betul mencerminkan hasrat mereka untuk menguasai politik kembali.

Tidak hanya itu, para jenderalnya pun bahkan secara personal ternyata berkolaborasi dengan kekuatan bisnis, dalam maupun luar negeri, untuk tetap menjamin kelangsungan kekayaan mereka. Ini harus dilihat sebagai gejala reversi yang sedang dialami Indonesia. Jika kita tidak mengontrol mereka, pada akhirnya supremasi sipil akan digerogoti. Lalu akhirnya, mereka akan menjadi aparat resmi lagi untuk mengatur semuanya.

Pada satu sisi memang tetap ada perlawanan dari masyarakat sipil terhadap arus reversi ini, seperti yang terjadi sejak kemunculan teknologi media sosial yang terus menciptakan ruang publik politik untuk partisipasi masyarakat sipil. Di dunia media sosial, kita dapat melihat gelombang aktivisme sipil. Namun, aktivisme masyarakat sipil di media sosial tersebut saat ini juga mendapat reaksi, terutama Surat Edaran Kepala Polisi Republik Indonesia (SE Kapolri) dengan nomor SE/06/X/2015.



SE tersebut akan menjadi reversi yang baru dalam kebabasan sipil dan politik di media sosial. Semua fenomena stagnasi, regresi, dan reversi ini terjadi karena tidak adanya skenario dan skema demokratisasi yang dipikirkan untuk menjadi sarana kekuatan bagi masyarakat sipil, yaitu kekuatan yang aktual dan signifikan secara politik.

Saat ini, partai-partai Islam pun sama-sama terjebak. Islam-politik yang dikerjakan melalui partai-partai Islam pada tingkatan formal tersebut mengalami kebuntuan.Olivier Roy dalam tesisnya, The Failure of Political Islam menyatakan bahwa Islam-politik sebagai agenda politisasi agama sebenarnya telah mengalami kegagalan. Kegagalan yang paling fatal adalah ketika Islam-politik tidak bisa merespon dan menciptakan gerakan alternatif terhadap neoliberalisme di satu pihak dan fundamentalisme di pihak lain. Dalam beberapa kasus, Islam-politik mainstream bisa terjatuh menjadi bagian dari agenda neoliberalisme, tapi di pihak lain juga bisa terjebak dalam fundamentalisme.

Kegagalan yang paling fatal adalah ketika Islam-politik tidak bisa merespon dan menciptakan gerakan alternatif terhadap neoliberalisme di satu pihak dan fundamentalisme di pihak lain.

Di tingkat informal pun Islam-politik saat ini terjebak ke dalam arus fundamentalisme, konservatisme anti politik, dan eskapisme anti sosial. Gerakan fundamentalisme tersebut di antaranya adalah Wahhabisme dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI yang agendanya menggantikan demokrasi dengan khilafah, berarti juga telah menolak nation-state Indonesia yang dibangun di atas pondasi demokrasi. Bagaimana mungkin demokrasi bisa dijalankan ketika nation-state juga digerogoti? Ini merupakan gagasan yang tidak masuk akal. Wahabisme dengan agenda anti Syi’ah dan Ahmadiyahnya juga merupakan gerakan yang benar-benar konyol karena menyerang raison d’etre dari demokrasi, yaitu citizenship. Bagaimana mungkin sebuah negara yang dibangun menurut kaidah dan prinsip demokrasi merangsek gagasan soal kewarganegaraan? Gerakan anti Syi’ah dan Ahmadiyah ini telah menegasikan status kewarganegaraan umat Syi’ah dan Ahmadiyah. Gerakan-gerakan fundamentalisme ini telah secara frontal bertentangan dengan gagasan demokratisasi Indonesia, karena mereka, Wahabisme dan HTI menghancurkan dasar negara. Pertama, berupaya mengganti demokrasi dengan khilafah. Kedua, menyerang prinsip demokrasi tentang citizenship.

Gejala lain dari kebuntuan Islam informal adalah eskapisme anti sosial, yaitu golongan-golongan yang hanya melakukan ibadah-ibadah vertikal tanpa memikirkan kondisi sosial. Pertanyaannya, betulkah agenda Islam hanya sampai di ranah transendental saja? Tentu saja tidak. Islam harus punya peranan publik dan peranan civic. Ketika islam ingin berperan secara signifikan dalam kehidupan sosial politik, maka Islam harus berada di wilayah publik, bukan di wilayah privat, dan sifat dari wilayah publik tersebut adalah civic atau kewargaan.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana caranya melakukan revitalisasi terhadap gagasan-gagasan progresif Islam? Jika arus Islam-politik konservatif bergerak ke takdir sejarahnya sebagai wacana reaksioner yang menolak perubahan struktural, apakah cita-cita emansipatoris Islam masih memiliki peluang untuk diwujudkan kembali? Tentu tidak. Harus ada sebuah sebuah agenda, strategi, dan paradigma baru agar Islam bisa muncul kembali menjadi gerakan alternatif yang strategis dalam kemacetan demokrasi kita. Inilah latar belakang dari pemikiran strategis munculnya Civic Islam.

GERAKAN yang disebut Civic Islam ini lahir dari pemikiran yang ilmiah realistis. Berangkat dari kegagalan-kegagalan demokrasi liberal yang hanya melahirkan arus politik elektoral, fundamentalisme, dan eskapisme anti sosial, Civic Islam lahir dengan semangat menghidupkan kembali peranan sipil, civic, dan publik ajaran-ajaran Islam. Pasca reformasi, secara institusional Indonesia memang mengalami demokratisasi. Namun, secara praktik politik kita masih dikangkangi oleh kekuatan-kekuatan patrimonial yang tetap mengendalikan situasi. Akhirnya panggung politik hanya dikuasai oleh elit-elit predatorial.

Berangkat dari kegagalan-kegagalan demokrasi liberal yang hanya melahirkan arus politik elektoral, fundamentalisme, dan eskapisme anti sosial, Civic Islam lahir dengan semangat menghidupkan kembali peranan sipil, civic, dan publik ajaran-ajaran Islam.

Gagasan Civic Islam ini pada dasarnya bisa dilacak pada pemikiran-pemikiranNurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, dan Gusdur. Misalnya pada ayat 110 dalam surat Ali Imran soal amar ma’ruf nahi munkar, yang dirumuskan oleh Kuntowijoyo sebagai politik emansipatoris dan upaya liberasi atau pembebasan manusia dari keterkungkungan sosial, ekonomi, dan ketidakadilan. Ada pula gagasan Nurcholish Madjid terkait pluralisme internal dan toleransi eksternal, inklusivisme, sekularisme (dalam pengertian yang dimaksud Nurcholish Madjid), dan post-secularism. Kemudian gagasan-gagasan lain yang sesuai dengan agenda demokrasi alternatif, yang menekankan pada public-virtue, civic-virtue, active-citizenship atau civic engagement.

Selama ini imajinasi Islam-politik hanya terkonsentrasi pada entitas keluarga, lalu bergerak ke entitas negara. Alur imajinasinya dimulai dari keluarga, melalui umat, menuju negara. Akhirnya Islam-politik hanya memperjuangkan Islam di tingkat keluarga dan negara, ia bersikap ambigu terhadap entitas masyarakat maupun entitas bangsa. Robert Hevner, dalam bukunya Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, pernah membayangkan munculnya Islam sipil, bukan Islam civic. Namun, bayangan itu mustahil terwujud di bawah hegemoni Islam rezimis. Gagasan Hevner berhenti pada logika politik oposisional terhadap rezim orde baru. Konteks yang terjadi saat ini telah berubah, sekarang Islam harus dibangun di wilayah civic, bukan hanya di wilayah civil. Setelah kita tahu problematikanya seperti itu, sebetulnya kita telah memiliki imajinasi bagaimana Islam harus dibangun. Di bawah bayang-bayang kegagalan demokrasi, cita-cita tentang citizenship yang beradab, baik pada ranah sosial, ekonomi, maupun politik, harus dibangkitkan lagi. Artinya, salah satu tugas Civic Islam adalah membanguncivic engagement, pada tingkat sosial, ekonomi, maupun politik.


Artikel ini sebelumnya diterbitkan di portal LPM Himmah UII | Gambar fitur diambil dari Pinterest | Galeri surat edaran Kapolri diambil dari portal Gatra.